Risalah Pertama Mursidul Am Ikhwanul Muslimin

Risalah dari DR. Muhammad Badi’, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 21-01-2010

Penerjemah: Abi ANaS

_______

Ikhwah dan akhwat yang dimuliakan ..

Asslamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Inilah risalah pertama yang ingin saya sampaikan kepada kalian, dari posisi yang mana kalian telah memberikan amanah kepada saya, yang pada hakikatnya telah memberikan kepada saya beban yang berat ini; sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Abu Bakr dengan penuh tawadhu;

وُليت عليكم ولست بخيركم، أطيعوني ما أطعت الله فيكم

“Aku diberi amanah, padahal aku bukanlah orang yang terbaik dari kalian, taatlah kepadaku selama aku penitahkan kalian untuk taat kepada Allah dalam diri kalian” ..

Dan yang kami harapkan pada itu semua adalah doa kalian; semoga dengan keberkahan-Nya kita bisa menjadi orang yang terbaik sebagaimana yang pernah disebutkan oleh nabi saw:

خير أمرائكم الذين تدعون لهم ويدعون لكم

“Sebaik-sebaik pemimpin kalian adalah yang kalian doakan kebaikan untuk mereka dan mereka mendoakan kebaikan untuk kalian”.

Bahwa syura, struktur dan tsiqah merupakan bagian dan sarana ujian rabbani yang akurat dalam jiwa para ikhwah dan akhwat di semua tingkatan dan levelnya .. syura bagi kami merupakan salah satu surat dalam Al-Qur’an, salah satu kewajiban Islam, salah satu akhlak dan prilaku yang membutuhkan adanya pelaksanaan dan penerapan di semua tingkat dan level serta sebagai mekanisme terbaru yang digunakan untuk melakukan jajak pendapat dan pemilihan dalam mengganti posisi pemimpin dan pemikul tanggungjawab

Dan kalian telah menyaksikan keteladanan yang telah disajikan oleh Mursyid Am ketujuh; ustadz Muhammad Mahdi Akif, yang semuanya telah mengkristal dalam sikapnya yang mendalam terhadap konsep-konsep dan nilai-nilai, dan membantah segala kebohongan dan fitnah yang diarahkan atasnya dan atas jamaah kita yang penuh berkah ini. Dan kami tidak membantah kepada mereka yang mengatakan bahwa ikhwanul Muslimin menuntut adanya demokrasi, sebagaimana kami tidak membantah adanya berbagai pandangan dan pernyataan negatif terhadap kami; karena kami para aktivis yang selalu bekerja, dan jika berada pada satu sikap seperti itu maka niscaya Allah melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.

Sungguh kita telah melewati masa-masa yang memiliki keinginan yang banyak, berbagai peristiwa yang telah berlalu tidak akan mengguncang fondasi jamaah, merobohkan bangunannya, dan mereka menduga atas kami dengan berbagai praduga yang buruk. Namun Al-Hamdulillah (segala puji bagi Allah) dengan adanya rukun tsiqah terhadap qiyadah, terhadap janji Allah, dan perasaan adanya naungan Allah atas jamaah ini, manhajnya yang bersih, dan prosedurnya yang murni; sehingga mampu memberikan perlindungan –berkat karunia Allah- atas jamaah ini dari berbagai fitnah, meluruskan berbagai kesalahan dan kekeliruan, menyempurnakan yang kurang dengan berlandaskan cinta kasih karena Allah, tanpa ada friksi dan faksi yang dapat mendorong melakukan penentangan dan pertikaian yang tercela dan fanatisme, atau ingin menang sendiri atau mengikuti hawa nafsu belaka.

Jika ini yang kalian saksikan di tingkat qiyadah (pemimpin) dalam satu urusan dan perkaranya yang sangat monumental dan sangat penting yang terjadi dalam tubuh jamaah yang penuh berkah ini, adalah merupakan kinerja yang patut dibanggakan; dan oleh karena itu wajib bagi kita untuk menerapkan ini pada semua tingkatan dan levelnya.

Dalam pertemuan terbatas antar ikhwah dalam usar mereka, syura menjadi salah satu rukun (pilar) dalam membangun kepribadian Islam yang independen dan bebas, terutama dalam mengungkapkan pendapat dan ide, dan memberikan nasihat dengan berharap menggapai ridha Allah SWT. Karena orang yang tidak memiliki kebebasan dalam menyampaikan pendapat tidak akan mampu membebaskan negeri mereka sendiri; karenanya bebasnya suatu negeri dari berbagai kekuasaan militer, politik, ekonomi, atau ideologi merupakan satu misi utama Ikhwan, dan sebuah kemerdekaan tidak akan mampu diraih kecuali dengan melakukan -pertama kali- kebebasan jiwa setiap insan dari berbagai belenggu.. karena itu marilah kita mulai dari diri kita masing-masing, marilah berusaha untuk menerapkan syura di semua tingkatan dan levelnya; karena hal tersebut membutuhkan latihan dan kesabaran untuk mendengar pendapat dan saran orang lain, menyimak nasihat yang merupakan inti agama, dan ia merupakan milik para pemimpin sebelum umat Islam secara umum.

Marilah kita wujudkan pembaharuan darah ini, dengan melatih para pemimpin dan meningkatkan kapabilitasnya guna meneruskan saya oleh kalian yang memiliki cita-cita dan visioner, shaf pertama kemudian yang datang selanjutnya, shaf kedua kemudian yang datang selanjutnya, lalu mempersiapkan tiga shaf yang siap menjadi qiyadah; karena mempersiapkan pionir yang mumpuni secara syar’i dan khusus sangat dibolehkan dalam ibadah shalat, sekalipun belum mendapatkan taklif (beban) namun mempersiapkan pemimpin dalam ibadah merupakan misi yang harus dilalui dengan berbagai proses.

كونوا عبادًا قبل أن تكونوا قوادًا، تصل بكم العبادة إلى أفضل قيادة

“Jadilah kalian hamba Allah sebelum kalian menjadi qiyadah (pemimpin), sehingga dengan ibadah akan menyampaikan kalian pada qiyadah yang lebih baik” sebagaimana yang pernah disampaikan oleh imam Al-Banna.

Karena ada yang beranggapan bahwa stabilitas tidak akan terwujud kecuali karena adanya kejumudan dan tidak adanya perubahan; padahal tubuh yang sehat dan prima adalah tubuh yang darahnya selalu mengalir dan terus memperbaharui sel-sel yang ada di dalamnya, namun ketika aliran darah terhenti dan sel-selnya vakum dari melakukan aktivitas; maka hal demikian bukan dianggap sebagai stabilitas, namun sebagai penyakit kematian, naudzubillah.

Inilah jamaah kalian yang berkat karunia Allah mampu tampil dengan penuh vitalitas, kekuatan penuh dan azam yang kuat untuk bergerak pada jalan yang lurus, pada tsawabit yang sama dan pada nilai-nilai yang direguk oleh pendirinya Imam Syahid Hasan Al-Banna –semoga Allah merahmatinya- dengan bersandarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah, dan begitu pula yang telah direguk oleh para mursyid am (pemimpin) terdahulu, serta pengorbanan orang-orang yang sabar baik dari laki-laki maupun wanita dari anggota jamaah ini dengan apa yang mereka miliki; untuk dapat mempertahankan dakwah Allah tetap tinggi panji-panjinya, memiliki kewibawaan dan kekuatan, sehingga dapat tersebar banyak kebaikan di berbagai pelosok negeri.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

Dan hanya milik Allah kekuatan dan kemuliaan dan juga milik Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman”. (Al-Munafiqun:8)

Allah Maha besar dari segala kesulitan…

Segala puji hanya milik atas segala sesuatunya..

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Risalah Pertama Mursidul Am Ikhwanul Muslimin"

Post a Comment

Related Posts with Thumbnails