Syair Para Syuhada

Ja'far bin Abi Tholib, Pahlawan Perang Mu'tah, Panglima pasukan Islam ini terlempar dari kuda, bangkit dan bertempur lagi, terjatuh lagi, bertempur lagi, hingga akhirnya gugur. Menjelang wafatnya, Ja'far menyenandungkan syair:

Duhai indah dan dekatnya surga
Nikmat dan nyaman air minumnya
Rum negeri yang demikian dekat
Kalau ku bertemu dengannya
Ku kan gempur ia


Abdullah bin Rowahah, juga salah seorang syuhada perang Mu'tah, ketika berangkat perang mendendangkan syair:

Aku memohon maghfiroh kepada Yang Maha Rahman
Semoga dianugerahi pukulan yang menghancurkan
Atau tikaman melalui tanganku yang siap sedia
Dengan serangan yang menghamburkan isi perut mereka
Hingga mereka kan berkata kala lewati jasadku
"Wahai prajurit, sungguh Allah telah berikan petunjuk-Nya padamu"

Ketika Zaed dan Ja'far bin Ali bin Abi Thalib gugur dalam pertempuran, Abdullah bin Rowahah segera menyambar bendera kaum muslimin yang hampir tumbang, lalu ia bergerak maju seraya berkata:

Aku telah bersumpah, wahai diri
Tuk terjun dalam pertempuran ini
Tak peduli kau suka atau benci
Lama sudah aku percaya
Kau hanya setetes air yang hina
Wahai diri,
Kalaupun engkau tak berperang
Kaupun pasti mati jua
Kini pintu kematian telah
Terpampang di depan mata
Apa yang kau cita selama ini
Pasti kau jumpa
Bila kau lakukan apa
Yang mereka lakukan berdua

Yang ia maksud dengan "mereka berdua" tak lain adalah Zaid dan Ja'far. Lalu menghamburlah ia menerjang musuh.

Ashim bin Tsabit, kepala rombongan utusan Rosul untuk menemui Bani Lihyan tertangkap musuh. Tawaran damai yang diajukan ditolaknya. "Allahumma Ya Allah, hari ini aku melindungi agama-Mu untuk-Mu. Karena itu lindungilah aku dalam usahaku melindungi agama-Mu". Kemudian ia menyerang seraya menyenandungkan beberapa bait syair:

Tiada alasan bagiku kala ku berjuang
Dan busurpun hanya punya sisa panah sebatang
Kalau aku tak menyerangmu
Sungguh keterlaluan aku
Mati hak bagiku
Sedang hidup terhina pantang untukku
Perlindungan Allah pasti kan datang
Tuk seorang
Kala kepada-Nya ia berlindung

Asyim mendapatkan syahid. Orang-orang Hudzail yang bermaksud memenggal kepalanya untuk dijual kapada Salfah (yang berencana menjadikan batok kepalanya sebagai tempat minum khamr karena dendamnya) harus kecewa karena Allah mengirimkan seorang laki-laki dari suku Ad-Dabbar yang menggagalkan rencana mereka.

Khubaib bin 'Adi, yang termasuk dalam rombongan Asyim juga menemui syahid. Dikisahkan bahwa dalam tahanan dia mendapatkan setangkai anggur padahal tangannya dirantai dan saat itu di Mekkah tidak sedang musim anggur. Dia pula yang memulai tradisi sholat dua roka'at bagi seorang muslim sat menyongsong hukuman mati. Ketika Khubaib mendengar musuh telah sepakat membunuhnya, dia mengumandangkan beberapa bait syair:

Di sekelilingku mereka telah sepakat
Kabilah-kabilah berhimpun dalam satu pendapat
Laki-laki dan perempuan berteriak setuju
Dan aku mendekati hari nan tak sabar kutunggu
Pada Allah kumengadu
Tentang petakaku susai kembaraku
Pun pada sepakat mereka yang satu
Tentang penguburanku
Singgasana itu telah membuatku bersabar
Terhadap maksud mereka, aku tak gentar
Nyata sudah maksudku bagi mereka
Tak lama ku kan temui apa kucita
Mereka hadapkan aku dua pilihan:
Kekafiran atau kematian
Dan ku telah tutup dua mataku
Tanpa keluh dan sedu
Tak nanti kuhindari mati, apapun ia
Aku takut api Jahannam menyala
Di tangan Allah sgalanya
Kalau Ia suka, apapun terlaksana
Dia pasti berkahi
Kala jerat mencekik diri
Aku tak peduli semua
Asal kumati pasrah pada-Nya
Di sisi yang mana saja
Kembaliku hanya pada-Nya

Demikianlah, syair yang meupakan bagian penting dari sastra telah berperanan penting dalam perjalanan sejarah Islam. Ini bisa dilihat dari bagaimana para syuhada terdahulu seperti pribadi-pribadi agung dalam contoh di atas telah memanfaatkannya untuk membakar semangat juang, memupuk cinta akhirat dan mengungkapkan rasa rindu pada Ilahi. ( Muh. Zuhal Ma'ruf, M.Pd.I)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Syair Para Syuhada"

Post a Comment

Related Posts with Thumbnails